Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Imaji yang Menjadi Jadi

Semoga ada yang mau mengakui hari itu. Imaji ini tidak akan kekal dalam lingkup imajiner. Tuhan tidak pernah bermain timbangan. Dimana rasa sakit dan sesak akan digantikan kebebasan tanpa syarat. Diingat tanpa diakui pun sudah cukup bila ingatan itu dibawanya pula pada doa, layaknya yang dia lakukan pada mereka, dirinya tak  pernah lelah berdoa tanpa didoakan, ya, memang bukan seorang biksu atau pendoa. Tetapi dia bahagia. 

Selama ini mimpinya terkubur semakin dalam dan dalam merengkuh inti panasnya bumi, sepanas bara yang dinyalakan dendam dan kebencian di dalam sesaknya. Bercakap, sopan santun, kepedulian ada padanya yang dulu ditumbuhkan pada prosesnya. Prosesnya dulu. Diapun memilih "bangunan" itu sebagai persinggahan sementaranya untuk memperbaiki proses tersebut. Bangunan itu menerimanya dengan lapang dada, sumringah, dan ikhlas, tetapi tidak dengan jantung hati di dalamnya. Semua prosesnya dipotong, dihentikan, dimatikan, gelap, dia mati rasa. Sopan santunnya terganti sekelumit dendam yang terpendam dalam genggaman tangan, cakapnya tak seelok nyanyian malaikat dan terganti kesedihan yang merajalela mengincar setiap sudut dari tubuhnya. Dan pedulinya hanya pada dirinya. Dia dan hanya dia yang mengasihinya. Gelap, dia tak bisa melihat apa-apa. Semua membuatnya buta. 


Tiga ratus enam puluh lima hari. Hitamnya yang menyelar kulit indahnya membuatnya membabi buta membalaskan dendam pada yang mau menerimanya tanpa syarat. Setumpuk tulisan dan angka, mereka tak pernah memberontak, mereka tak pandang siapa yang membaca dan memperhatikannya setiap saat, mereka ikhlas. Mereka butuh dia. Dan mereka membalaskan budi dengan rasa bangga walau tak dapat mencapai seluruh Nusantara. Bahagiakah dia? Tidak. Tetap saja dia tak dapat membuat sesuatu bagi si jantung hati bangunan itu. 

29 garis akhir atau garis awal. Dendam, sedih, kesia-siaan, kebutaan, ketidakpekaan, tekanan, depresi, akankah terjadi kembali? Mencoba keluar sudah menjadi sebuah kebiasaan yang tak terhitung yang membawanya semakin dekat dengan kebinasaan. Sekarang mati. Jasadnya semakin diludahi dan diinjak kaki-kaki manusia terutama mereka yang agung. Sakit. Sesak. Mana kebebasan yang Tuhan janjikan itu? Harus sampai sesak seperti apa jantung ini menahannya. 

Pada hari itu hanya ingin imaji itu tidak semakin menjadi-jadi. Ingin diterima jantung hati yang manis itu, yang kata orang itu menyala merah dan mencolok di permukaan. Bangunan itu ikhlas menampungnya bahkan jasadnya, tetapi mengapa jantung hati itu tidak. Dia hanya ingin ikhlas dan kebergunaan di dalamnya. Dia ingin menjadi agung dan berharga bagi jantung hatinya. Dia tidak ingin dibunuh rasa bersalah dan dendam pada masa mudanya.


Imaji itu tidak kekal...

Kinou Yori Motto Suki (Aku Lebih Menyukaimu Hari Ini Dibanding Kemarin)

            
“Terlalu banyak hempasan bunga sakura di sini,” gumamku dalam hati. Bagaikan diiringi dalam kesendirian dan tak tersadar di pojokan kota. Suasana yang seperti biasa, hentakan kaki dan riuh-ramai ocehan para siswa membuatnya semakin padu. Layaknya opera, akulah penontonnya. Bagai karya seni, akulah penikmatnya.

“Tontonan apa ya yang menarik hari ini? Siapa pemeran utamanya?” Aku berkata dalam hati dan berbicara kepada diri sendiri. Ya, diri sendiri, aku sudah lama menyukai hobi ini, duduk sendiri melihat kesibukan siswa siswi Jijo High School ini. Mungkin kalian tidak mengerti apa hobiku ini. Ya, kalian bias menyebutnya Paparazzi. Sebenarnya bukan paparazzi sih, tetapi semacam kebiasaan menyendiri sambil menganggap bahwa apa yang kita lihat adalah sebuah opera dan kita selalu mencari siapa pemeran utamanya. Aneh, bukan?

Belakangan ini tidak ada yang menarik dari opera harianku. Hanya ada keributan lalu melibatkan kepala sekolah, lalu Team Akonee (Genk kecil-kecilan yang tidak terlalu popular di sekolahku) dan gossip-gosipnya, teriakan para siswi karena menonton film horror terbaru. Itu semua seperti kari tanpa kaldu, hambar. Aku juga mencoba menuliskan opera harianku tersebut dalam sebuah karangan tetapi anehnya tidak lancar seperti biasanya. Aku ingin sesekali mencoba mengamati murid-murid tak populer di sekolahku, siapa tahu ada sesuatu yang tidak biasa dibalik dirinya yang kelihatannya biasa-biasa saja.

Aku melangkahkan kaki ke koridor sambil mencari target untuk misiku itu. Mata ini tak letih-letihnya melirik kanan dan kiri mencari sesuatu yang tidak biasa dari orang yang biasa-biasa.  Entah tingkah lakunya, pakaiannya, dsb. Tetapi, biasanya aku mengukur orang tersebut ‘tidak biasa’ dari tingkahnya saat itu.

First target, Derune? Sepertinya bukan. Gadis bertubuh gempal yang memakai kacamata tebal dan selalu membawa buku tentang ilmu sihir anehnya itu, lalu pulang sekolah dengan membawa sepeda tua yang katanya peninggalan orang tuanya sambil memakan chicken wing itu? Terlalu biasa di antara yang biasa-biasa. Tidak cocok menjadi target operaku untuk misi ini.

Second target, Fureedirio? Siswa baru pindahan dari  Indonesia yang belum fasih berbahasa Jepang. Setiap sorenya selalu menjadi target giliran genk-genk di Jijo High School dan selalu mengancam para anggota genk bahwa ayahnya adalah seorang polisi yang ditugaskan di Jepang. Sepertinya akan menjadi sesuatu yang susah, aku baru melihatnya pindah saja satu minggu yang lalu. Tidak cocok.

Third target,  Yui-chan? Seorang bad girl yang gagal menjadi anggota Team Akonee? Penampilan yang menor dengan lipstick pink menyala dan dada yang sedikit terbuka, lalu rok yang terdapat coretan tandatangan personel AAA. Biasa.

Mengapa hari ini dunia terlihat membosankan?

Menyusuri jalanan dibawah mentari senja dengan diiringin dentaman angin pergantian musim yang tiba-tiba berhembus. Dengan menendang sebuah kaleng soda yang tergeletak, saat itu juga jantungku berhenti berdetak. Apa yang ku lakukan? Aku terpaku menatap Niki-chan. Dia terlihat menarik. Iya, dia kan menjadi pemain utama opera senja ini.

Bukan fisik Niki-chan yang terlihat menarik untukku jadikan target paparazzi hari ini, namun seseorang yang ada bersama dengan dia saat itu. Nagato, teman sekelas yang sering kusebut sebagai tumpukan buku fisika karena apa yang ada di otaknya seperti hanya segumpalan rumus-rumus dan penerapannya. Dia bukanlah laki-laki yang populer di sekolah, bahkan di kelas sekalipun, Nagato sering di bully dan diasingkan mungkin karena kesukaannya terhadap anime yang terlalu berlebihan. Lalu Niki-chan? Seorang kutu buku yang sangat asing dengan ‘cinta’, selalu masa bodo dengan masalah hati, waktu yang di miliki hanya untuk membaca, menulis, membaca, menulis, membaca, menulis… membosankan bagi sebagian orang, terutama aku.

Kurang asik rasanya jika hanya mengamati tanpa mencari tahu. Rasanya akulah pemindai sandi di antara mereka berdua. Sandi yang selalu mereka sembunyikan bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua yang tidak mereka sadari, atau mereka memang tak ingin menyadarinya. Tetapi aku pemindai, aku dapat menemukan kata kunci di antara mereka berdua yang mereka sendiri tak dapat mengerti dimana letak kata kunci tersebut.

Bagaimana bisa dikatakan teman biasa jika setiap hari selalu menghabiskan satu demi satu episode anime terbaru? Bagaimana bisa dikatakan teman biasa jika setiap hari selalu duduk berdampingan dan tanpa ada yang menyadari mereka berdua saling mencuri pandang? Memang mereka berdua bukan sepasang pasangan populer di sekolah yang salah satunya menyatakan cintanya dengan menyusun coklat supaya terlihat berbentuk hati di depan pintu kelas agar terlihat romantis lalu mulai meresmikan hubungan satu dengan yang lainnya. Lalu, beritanya menyebar ke seluruh sekolah, bukan. Bagi Niki-chan dan Nagato cinta itu kebersamaan.

Ketika pertama kali aku melihat Niki-chan pulang bersama Nagato sehabis dari toko buku, aku melihat bahwa mereka satu sama lain saling menyampaikan,”Aku tak ingin kehilangan kamu.” Lewat tatapan mata mereka. Betapa indahnya, jika orang yang kamu sayang juga tidak ingin kehilangan kamu. Merangkai rasa walau hanya sebatas teman, tanpa ungkapan ataupun penolakan. Tetapi, rasa itu tergambar jelas pada setiap kedipan yang terjadi. Sederhana bukan? Tetapi tidak semua cinta dapat hadir sesederhana itu.

Sampai sekarang, aku belum menemukan ending dari opera senjaku itu. Dari mereka tidak ada yang saling berkata tentang cinta karena apa? Mungkin karena mereka tidak ingin kehilangan kebersamaan di antara mereka, kebersamaan di dalam rasa yang tidak dapat mereka gambarkan. Yang jelas di setiap harinya ada satu kata yang saling mereka ucapkan lewat senyum dan mata mereka,” Kinou Yori Motto Suki  --Aku Lebih Menyukaimu Hari Ini Dibanding Kemarin--.”




Coretan Misterius -Nazo no Rakugaki-

     

Pelajaran Kimia memang membosankan. Apalagi, harus menunggu saat-saat bertemu Yamada. "Kamu kenapa sih, Ki?" Aku mencoba menghilangkan semua pikiranku tentang Yamada. Sudah 3 tahun ini, kisahku dengan Yamada selalu tidak ber-ending, bukan karena ceritanya menarik berenda cinta yang membuat candu, tetapi karena tidak ada cinta itulah. Asyik, bukan? Ngambang.

            "Ketemuan, yuk!" ajak Yamada. Yamada adalah seorang teman atau bahkan bisa dibilang lebih dari itu, sudah 3 tahun, setiap hari pasti kan kuluangkan beberapa waktu untuk dapat mengobrol dengan dia. Isi obrolan itu biasanya tentang keluhan hati kita berdua, setiap hari kita saling berbagi dan saling memberi solusi satu sama lain. Aku sendiri merasakan sesuatu yang beda saat bercerita bahkan saat aku menceritakan orang yang ku idolakan kepada dia. Bukan idola biasa, idola hati. Iya, aneh kan? Aku sering memikirkan Yamada, aku sering mengeluh dan saling berbagi dengan dia, tetapi dia bukanlah pilihan yang dituju hati ini. 

          "Yamada, sudah dari satu bulan lalu, LINEku tidak pernah dibaca oleh Koike, padahal dia aktif terus," aku mencoba mengeluh dengan tak sadar sudah membasahi kedua pipiku ini. "Hmmm...," Yamada nampak kesal. Layaknya paranormal, ya, aku mempunyai kemampuan itu, aku mencoba memikirkan apa yang sedang dia pikirkan, merasakan apa yang sedang dia rasakan. "Kenapa harus Koike, sih? Kenapa kamu harus menunggu, berjuang, berperang untuk orang yang tidak pernah menganggap kamu ada? Lihat! Di sini ada yang mampu melihat mu, melihat dengan hati." Aku tersentak. "Aneh.." Yamada masih terlihat kesal. Emosi Yamada sudah mulai memuncak, tetapi aku masih tak sadar dengan itu, atau yang lebih tepatnya tak mau tersadar dengan apa yang dia rasakan. "Aku masih suka Koike dan aku masih akan tetap suka dengan Koike, 19 bulan sudah aku berjuang, tidak mungkin aku berhenti tuk yang ke 20, tetapi aku harus bagaimana jika dia tetap saja begitu?" Yamada meninggalkanku. Sebelum melewat tikungan, dia sempat berkata,"Tanpa sadar selama itulah kau sudah ditunggu!"

           "Hah?" Aku masih menangis, aku pun juga bingung dengan apa yang Yamada katakan barusan. Yang membuatku bingung bukan arti dari apa yang dia ucapkan, tetapi mengapa pikiran dan hatiku itu terlalu terfokus hanya untuk Koike. 

            Tidak seperti Sakura, Mii-chan, Yui-chan, dan semua cewek terpopuler di SMA ini. Mereka beruntung, mereka terlahir bak putri kaisar. Semua orang memuja mereka, semua orang haus akan cinta mereka. Tidak sepertiku, sehaus-hausnya orang, sedahaga-dahaganya mereka, mereka takkan menyentuhku walaupun aku air terakhir saat itu. Memang seperti itu, aku menjijikan, apalagi dimata seorang Koike-senpai.Aku terlalu pesimis untuknya. Bukannya aku tidak optimis, namun aku takut untuk optimis. Sudah cukup katana sang samurai melukaiku, takkan lagi.

           Notification LINE. Kubuka. "Kamu mau nggak be my girlfriend?" sent by Yamada Nagato. Ha? Baru dua hari setelah peristiwa dia meninggalkanku, kemudian diaa... I can't believe it! Tunggu.. Mengapa tak ada satu dua detakkan pun yang menambah cepat detakan jantung ini? Iya, karena Yamada lah yang mengungkapkan itu, bukan Koike. Entah bagaimana ku kan menolak Yamada dan takut kehilangan Koike. Di satu sisi aku tidak ingin kehilangan sahabatku yang ku tahu selama ini telah menyukaiku diam-diam, namun aku juga tidak ingin kehilangan Koike yang kuperjuangkan hampir 20 bulan ini. "Gomenasai, Yamada... Koike.. Koike," Ku harap dia tau maksudnya. Iya. Dia tahu. Dia memang sudah dewasa. "Jangan menjauh ya.." disana mungkin dia sangat berharap. Dalam hati aku berkata,"Namun bagaimana jika ku terus dan semakin dekat denganmu, semakin jauhlah aku dengan Koike, aku sadar selama ini kamu yang mendukung ku termasuk dalam hal Koike, aku tak membayangkan sakitnya mendukung seorang idola hati yang sedang merasakan jatuh cinta bukan kepada penggemarnya namun kepada orang lain."Sekali lagi ku katakan, "Gomenasai..."

           Sudah berhari-hari pasca dia menyatakan hal itu. Diam. Sepi. Tidak seperti biasa. Dewi Fortuna! Aku senang, ya, memang aku senang. Saat aku dan Yamada sudah tak seperti biasa, di saat itulah entah mengapa Koike semakin dekat denganku. Bahkan obrolan-obrolan tidak penting saja dia masih mau menanggapinya. Oh ... Miracle in December .. hahaha. Semua emoticon hampir setiap saat mengisi LINEku, bahagia, senang, gembira, aku tak mampu menjelaskan rasa ini. Yang pasti aku takut kehilangan itu semua daripada aku takut kehilangan Yamada. Tiba-tiba hatiku berkata,"Kau akan kehilangan semuanya, nikmatilah sebelum kau kehilangannya!"

          Tik.. Tik.. Tik..
           Mungkin benar apa kata hatiku, sudah sehari ini tidak ada notification, tidak seperti biasanya, sepi. Ku kira dia akan selamanya menganggapku, tapi tidak akan pernah, aku yang terlalu optimis. Aku ingin menceritakan segalanya. Ke siapa? Yamada? Dia sudah pergi dan aku juga tidak mungkin kembali padanya. Mungkin aku hanya dapat berbicara pada tembok belakang kelas, tempat yang biasa ku gunakan saat aku bercerita dengan Yamada."Aku mungkin kehilangan Yamada (dan pastinya juga Koike) namun aku tak kan pernah kehilangan tempat biasa ku bercerita dengan Yamada." Aku seperti orang tak waras yang bicara dengan diri sendiri, memang menyedihkan memperjuangkan seseorang lalu kehilangan keduanya.

           "Y...U...K...I...K...O...I....K...E...S...E...M...O...G...A" aku terkejut, "Apa?  Siapa yang menuliskan coretan sandi ini di balik tembok? Apa maksudnya? Jangan-jangan.... Yamada!" Aku berteriak sedikit kesal. "YA! Aku!" Sosok laki-laki tinggi bersuara besar sepertinya telah berada di belakangku, memperhatikanku menyelesaikan sandi dari tadi. Ku berbalik. "Yamada?" spontan ku berkata,"Maaf.." Dengan mata berkaca-kaca,"Untuk apa kau meminta maaf? Tidak ada yang salah dalam hal ini, dan kita juga tidak perlu mencari siapa yang salah, aku juga tidak bersedih kok, karena dari awal aku sudah tau jawabannya.""Tidak usah bohong, aku bisa lihat dari matamu, kamu sangat bersedih, seperti apa yang ku rasakan. Aku juga pernah merasakan hal yang sama, bahkan aku lebih tersentak, lebih patah, lebih disakiti. Arigatou, atas sikapmu yang dewasa aku kan meneladanimu, senpai." Waktu itu dua buah senyuman terajut di bibir kami berdua, oh, dua sahabat yang saling tersakiti. Terimakasih doa dalam coretan misteriusnya.

Lebih Dari Sekedar Perasaan -Omoide Ijou-

 


          Melihatnya berlari membuatku berdebar. Mengejarnya dengan tatapanku, lock on. Waktu olahraga itu adalah harta. Di kursi belakang, secara diam-diam melihat luar. Pura-pura mengecek sesuatu padahal maksudnya berbeda, hanya ingin memperhatikannya. Cahaya mentari itu selalu membuatnya terlihat sempurna.
          Mitsuo-senpai[1], tidak terlalu menonjol diantara senior-senior yang lainnya. Bahkan, dikenal oleh teman-teman seangkatannya saja tidak. Seorang yang pendiam yang selalu menyembunyikan kemampuannya? Mungkin seperti itu. Tapi mengapa diriku bisa mengetahui keberadaanya? Dan mulai memperhatikannya? Just secret.
            “Tik.. Tak.. Tik.. Tak…” suara bolpoin yang kuketuk-ketukan di meja pertanda kebosanan dalam diriku sudah mencapai titik puncak saat harus mengikuti pelajaran Kimia yang pengajarnya adalah Akimoto-san. Seperti biasanya, membuang pandanganku ke luar jendela adalah candu. Melihat Mitsuo-senpai melakukan pemanasan lalu mulai berlari menggiring bola, dan tidak sengaja menyadari pandanganku dengan wajah berkeringatnya itu, ingin kuhapus dengan jari di dalam anganku. Hanya dapat berkhayal.
            “Matsui Jurina!” lemparan kapur Akimoto-san saat itu juga mendarat di lengan kananku. “Jelaskan apa yang dimaksud dengan hukum Ohm!” Akimoto-san menyadari diriku yang tidak fokus pada pelajaran, tetapi fokus kepada senpai di sudut lapangan bola. Untuk pertama kalinya Akimoto-san menyadari itu semua.
            “Hukum yang menjelaskan… nganu.. nganu… Hmm.. apa ya?” dengan gugup, diriku tidak bisa berkata sepatah kata pun untuk menjelaskan.
“Sudah merasa cerdas, lalu tidak memperhatikan saya? Dari tadi apa yang kamu perhatikan?” interogasi Akimoto-san.
            “Biasa! Jurina setiap kali bosan pasti memperhatikan Mitsuo-senpai yang sedang berolahraga, Akimoto-san!” celetuk Natsumi yang entah darimana dia tahu apa yang aku lakukan setiap pelajaran Kimia.
            “Iya, Jurina selalu tidak pernah lepas pandangannya dari Mitsuo-senpai!” Tambah Tadao yang merasa puas saat Akimoto-san memarahiku.
            “Dia selalu begitu, san!”
            “Beri saja dia tugas membuat karangan 500.000 kata dalam Bahasa Inggris biar dia kapok, san!”
            “Diam semua! Oh, jadi muridku yang satu ini sedang jatuh cinta? Sekolah ya sekolah, jatuh cinta itu cuman buat selingan saja, jangan sampai gara-gara jatuh cinta sekolahmu jadi …” Teeeetttt… Bel pulang sekolah memutuskan pembicaraan Akimoto-san. Akimoto-san tidak melanjutkan kata-katanya, malah langsung pergi keluar dengan terburu-buru seperti biasa, dengan membawa penggaris tua di tangan kanannya.
            Teman-teman sekelas hanya bisa diam terheran-heran. Jarang sekali bahkan tidak pernah  Akimoto-san tidak memarahi muridnya yang melakukan kesalahan pada waktu jam pelajarannya. Tetapi Jurina? Mengapa dia tidak dimarahi Akimoto-san? Bukannya Jurina bukan murid kesayangan Akimoto-san karena nilai kimianya tidak pernah lebih dari B+? Terus mengapa? Tanda tanya besar menari-nari dalam pikiran murid-murid kelas IX, tak terkecuali aku.
***
            Tidak terasa tinggal 6 bulan lagi bunga sakura akan kembali bersemi, pertanda musim kelulusan akan tiba dan tidak terasa sudah 4 bulan yang lalu sejak Akimoto-san melempariku dengan kapur, Mitsuo-senpai semakin jarang kulihat. Yang biasanya dia menjadi pemain tengah saat sepak bola, sekarang dia memilih menjadi pemain cadangan seakan dia tidak ingin terlihat. Bahkan, dia tidak pernah sekalipun melewati kelasku walaupun hanya untuk ke toilet, dia lebih memilih untuk berputar lebih jauh untuk sampai ke toilet tersebut. Sampai suatu hari, saat aku duduk di kursi biasanya, di dekat jendela, dia rela menunggu lama di suatu sudut sekolah agar aku beranjak dari tempat itu baru dia mau memasuki kelas yang berada di samping kelasku. Dia menghindariku.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Saat pertanyaan itu terlintas di pikiranku, tiba-tiba Kenji datang,”Jurina! Mitsuo-senpai itu sudah tahu bahwa kamu mempunyai sesuatu rasa kepada dia.”
“Hah? Kok dia bisa tahu? Kamu juga bisa tahu kalau Mitsuo-senpai mengerti perasaanku dari mana?” kataku.
            “Ya kamu itu bodoh! Kamu apa tidak mengerti bahwa Akimoto-san itu ayah dari Mitsuo-senpai? Ya jelas, setelah kejadian itu pasti Akimoto-san menceritakan apa yang terjadi kepada Mitsuo-senpai dan kamu tidak tahu kan jika Mitsuo-senpai tidak diperbolehkan berpacaran sampai dia masuk ke perguruan tinggi? Jadi, dia semakin menghindari kamu, bayangkan takutnya dia jika nanti kamu dan dia digosipkan berpacaran, pasti ayahnya akan marah besar!”
            “Tapi aku juga tidak ingin berpacaran, memangnya dia mempunyai rasa yang sama sepertiku?”
            “Ya jelas, TIDAK! Kalau dia suka sama kamu, pasti dia akan mencoba mencari tahu tentang dirimu secara diam-diam dan tidak akan menghindari kamu!” Kenji meninggalkanku.
            Kaki ini dengan cepat membawaku ke bagian atas sekolah, bagian yang biasa murid gunakan untuk menikmati indahnya matahari tenggelam. Tapi, saat itu yang kulihat adalah awan pucat seperti akan menangis.
            “Aku bodoh! Apakah gadis seperti diriku ini tidak boleh merasakan apa itu cinta? Rasa yang lebih dari suatu perasaan spesial? Jika iya? Mengapa aku tidak boleh mengagumi Mitsuo-senpai? Hanya sekedar mengagumi tanpa harap mendapatkan balasan, kataomoi[2] pun tak apa.”
            Air mata perasaan tak terbalas ini mengalir begitu deras. Saat itu sang awan pun juga ikut menangis. Seragam yang basah tak diriku hiraukan, hanya rasa bersalah dicampur rasa sedih dan jengkel menghabisi seluruh semangatku hari itu. Rasa ini tak mungkin lagi kulanjutkan kepada Mitsuo-senpai. Aku akan menghilang tuk selamanya dari pandangan Mitsuo-senpai dengan membawa rasa yang tak pernah akan ada lagi untuknya jika dia berubah suatu saat nanti. Musim semi dengan sakura tahun depan itu, upacara kelulusan itu, promnite itu, akan kujalani tanpa memandang dan berharap lagi kepada Mitsuo. Maafkan aku, Gomenasai[3]. Sayonara[4]
                                                                                               


















[1] Senpai adalah sebutan untuk orang yang lebih tinggi derajatnya daripada kita biasanya sering disebut di sekolah, kalau senpai adalah sebutan untuk seorang kakak kelas dan kalau dalam pekerjaan bisa dikatakan sebagai senior. 
[2] Kataomoi adalah cinta tak terbalas dalam Bahasa Jepang.
[3] Gomenasai artinya maaf.
[4] Sayonara artinya selamat tinggal.