Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kecuali yang Tak Tersurat


Mungkin ada rahasia di dalam rasa bersalahmu
Disana ada mereka tanpa aku
Rahasia itu adalah perkecualian
Kecuali aku, kecuali tentang diriku

Disana kau suratkan sebuah janji dan kerinduan
Dimana surgalah tempat kau membayar habis ikrar sucimu
Tetapi bagaimanakah jaminan akan itu?
Tolong jangan dusta bermain lagi pada dongeng yang sudah kuanggap selesai


"Jangan bohong lagi,ya, aku tunggu di surga."

Terkagum Tangan Batara

Tergerai ruai menebas berbalap dengan angin
Dironcenya rupawan pada setiap senyumnya
Gitarnya terpetik tangan adikuasanya
Lantunan syairnya jatuh dirinaikan hujan pada bibir dermaga 

Tidak peduli kau dewata, pujangga, atau penembang
Tinta hitam dan sekucal kertas tua
Bertumpuk kitab para penyair terdahulu
Atau lira tua yang seakan terpangku ambisimu

Tetap saja sepasang mata cokelat yang kau puisikan itu
Yang berakrobat pada hatimu setiap degupannya
Tak mengharap lagu syahdu karena dia sudah kagum
Aku terposisikan disana, hasil tangan batara

Untuk Fiersa Besari,
Dari seorang penulis yang teramat amatir untuk menuliskanmu

Terbenam ke Dunia Hades

Iya dan tidak semua salah, semua benar
Mulut Avernus menganga lebar, dia sudah lapar
Tak punya obolos pada keping-keping bagakku
Akheron akan menghanyutkanku, Kharon akan membuangku
Sebelumku singgah pada penghakiman kesekianku

Minos, Rhadamanthus, dan Aiakos
Tiga tangan pokok yang mencengkeram batasan
Pangkal gulita, tak ada sempadan
Biang hitam, kuasai sembiran

Sebelum imaji pada penjagaan Kerberos
Berkecai lantah kuasa dalam diri seorang hamba
Menjadi sepaian gamam berkejaran pada suatu gidikan
Apakah Asphodel tempatku mendulang,
Atau Tartaros ku kan berpulang,
Tak mungkin pada Elsium ku akan bersulang;
Dia masih saja bimbang akan dirinya.


Hades merupakan dewa penguasa dunia bawah tanah, dirinya identik dengan kematian karena kepercayaan bahwa orang mati akan menempuh kembali perjalanan hidupnya menuju penghakiman terakhirnya di dunia bawah tanah. Avernus-lah pintu yang menjembatani kedua dunia tersebut dengan harus melalui sungai Akheron bila ingin sampai pada penghakiman terakhirnya dan bertemu Minos, Rhadamanthus, dan Aiakos. Mereka akan menghubungkan jiwa-jiwa mati tersebut pada 3 jalan yang berbeda, sesuai bagaimana jiwa tersebut pernah hidup.


[Sepotong Bait Serdadu Aghni] Kali ini Aku Habis

Di atas gubahan pendulum api
Dia susuri bibir lingkar tanpa tahu akhir mana yang menjumpanya;
Aku tak akan habis
Kehormatan persembahkan pada bengis
Membawa prinsip suci pada nafsu hati, manis

Ingatkah dia pada ikhlasnya;
Ya sudahlah, mungkin malam ini ada yang lain
menjadi penina bobok pada cerita penghantar kantuk anak-anak itu
Malam tak hanya seribu,
Sabit masih  tegar menyabit kisahku

Lalu dibawanya nyanyian tidur itu pada tong sampah
Sudah tergantikan derik risih mungkin
Diarahkannya panah pada mazmurnya yang baru
Terus dan tetap mengincar dengan gencar

Hening yang Meronta

Sadarnya kembalikannya pada apa yang terlupa
Di saat adzanmu menyaut syafaatnya
Mereka tak direstui batas
Dan tentang jarak yang tak diiyakan segmen
Meski heningmu berontak ronta akan relungnya

Begitupula dia yang tak mampu bertipu muslihat atas rasanya



Masih terinspirasi dari kondisi perang dimana doa diantara dua manusia saling bersahut-sahutan menyerahkan orang yang disayangnya kepada Tuhan. Relasi yang terbentuk dapat antara istri-suami, orang tua-anak, ataupun saudara. Mereka saling merindu tetapi pertemuan mereka tidak bisa terjadi karena memang keadaan yang memaksakan mereka terpisah. Hati mereka kosong, hening, dan semua itulah yang meronta-ronta menuntut haknya. Hak untuk bertemu dan menggenapi yang kosong itu dengan suatu yang penuh.

Jalan Sebuah Perjalanan

Bagaimana setetes jingga termakan nila
Sesibir bahana tertindih gelegar pekik;
Tak ada yang bahagia, kami lupa tujuan
Kekuatan utama kamipun terhasut peluh

Ada yang kesana, ada yang kesini
Ada yang hanya berputar kesana kemari
Namun mereka tak melihatnya yang menyusur lurus
Menjelajahi sela renggang di antara kami
Menyirat jala pada keegoisan hati;
Bagaimana petualangan kalian, belum berhenti bukan?




Untuk semua yang menganggap adanya suatu proses, mungkin banyak hal yang membuat suatu proses tak seperti yang diharapkan. Kebersamaan, toleransi, keluarga, empati, saling memiliki, ketidakegoisan, kedewasaan, semuanya bukan nol, hanya saja belum pantas untuk dapat disebut hasil dari suatu proses yang sebenarnya. 

[Sepotong Bait Serdadu Aghni] Apa Kabar, Ksatria?

Tegasmu makin hari makin saja menegas
Pijakanku melemah pada jantung bertamengmu
Seakan kuatmu semakin menguras dayaku
Lalu bersisa apa?

Jangan pernah redup, ksatriaku
Semakinlah terang, ambil saja arang dalam diriku
Biar sinarmu semakin terlihat
Jangan dadamu gamang akan ujung cemeti dewa

Sehingga senyumku bisa terpatri olehnya
Di sana, pada marmer hitam
Dibawah salib emas yang tertatah
Menunggumu menaburkan doa yang dibawa bersama mawar 
Bukankah kau tak pernah membawakanku sebelumnya bukan?


Menunggumu pulang dan kembali, kau pasti baik-baik saja.



Puisi ini terinspirasi oleh para wanita-wanita pada jaman penjajahan dimana rasa kasih dan cinta mereka digantung oleh hidup dan mati pasangan mereka di dunia darah yang tidak terlihat merah, tetapi hitam. Akhirnya, para wanita yang dijadikan budak seks oleh penjajah tersebut hanya bisa berkabar dengan hampa dan menanti pada kealpaan, lalu mereka sendiri hilang dan kabar itu masih mengincar dada pemiliknya yang entah kemana. Untuk terakhir kalinya, wanita-wanita itu hanya ingin tanda cinta di atas tanah peristirahatannya walau cinta dan kasihnya tak akan pernah sampai pada titik yang dapat kita sebut nyata.

[Sepotong Bait Serdadu Aghni] Aku pada yang Agung

Kepada ksatria kabir mustahil berakhir
Terlampau agung terlewat luhur
Bara api yang masih merayu-rayu
Melambai aku dari balik pesinggrahannya
Lunglai ruai perapian rasa yang mengais
Semakin runtuh retak tak berampas

Setialah berperang bergerilya 
Kobaran api akan selalu dinyalakan doa
Yang kau rasa hanya panasnya

Teruslah berjuang berseteru
Hawa kan dibawa angin
Yang kau cicip hanya sejuknya
Dan disanalah sembahyangku bersemayam
Olehku yang tak pantas menamaiku sebagai aku


Dari sudut penantian, dari pangkal keagungan,
Doaku masih ada disini

16 April 2016


[Sepotong Bait Serdadu Aghni] Hangus Sekali Lagi

Bara kau nyalakan di dalam matamu
Harap kau sulutkan pada pandangmu
Rindu diam-diam membakar pupilmu
Ketakutan menjelma minyak dalam perapian itu
Mulutmu julurkan lidah dewi Aghni
Dosa apakah aku padanya
Ia sentuh perlahan kulitku
Ia habisi setiap sel yang ada padaku
Lalu tersisa abu

Kau membakarku hidup-hidup
Lewat pencecap dewi Aghni pun juga cecapmu
Sungguh itu darimu
Dan percayaku bertukar dengan kecewa
Masihkah kau ingin membakarku hidup-hidup?

[Sepotong Bait Serdadu Aghni] Senja yang Terbakar

Lidah Aghni terus menjilati belukar dengan manisnya mendamba sekecup tawang; sepertinya ikhlas akan cintanya yang tak akan nyata.

Senja yang terbakar menatap tajam dan terpaku,

Dia menyisir setiap gerik kita;
Siapa yang menjelma Aghni, siapa yang menjelma tawang
Siapa yang berapi-api, siapa yang hanya memandang.

Ditulisnya kembali sebuah cerita oleh senja itu;

Dia belum lelah,
dia bahagia akan prosanya yang selalu menagihnya
menuliskan kelemahan kita untuk bekal esok paginya.

Dia tak kekal dan tak akan sampai.




Ini merupakan puisi yang terinspirasi dari salah satu karya Adimas Imanuel, dalam puisi ini digambarkan seorang yang merasa tak mampu tetapi terus saja berusaha membuktikan bahwa dia mampu. Tujuan di dalam puisi ini cinta, tetapi dapat kita mengerti bahwa tidak hanya cinta sebenarnya yang ingin dijelaskan disini, tetapi apapun itu yang menjadi tujuan hidup manusia.

Hinaanku, bukan HinaanNya

Aku terdesak dalam nyata yang tak ku anggap ada
Aku tersadar akan bodohnya
Aku terbangun akan lemahnya
Dan terbuang dalam ketidakgunaan

Mungkin beruntung dicipta Tuhan
Lalu terlupa akan historinya
Itu aku
Apa yang harus ku syukuri?
Walau syukur memeluk doa
Kepada malaikat surga kualamatkan
Tetapi bagaimana?
Kutinggikan syukur dalam cela yang harus kunikmati?
Aku ini apa?
Dan hanya aku yang menjadi tujuannya
Demikiankah ku berterimakasih padaNya?

Ajari diri yang mudah tertipu kefanaan
Atau setidaknya bantu aku temukan harganya
Dalam setiap yang ku lihat daripadanya
Takut kan buatku bangkang dari yang menciptanya

Jerat Reinkarnasi

Lucu, bukan?
Saat yang mati itu sebenarnya tak mati
Hanya saraf-saraf yang khawatirkannya 
Hanya otot-otot yang tak ingin tulangnya roboh
Hanya urat-urat darah yang tak ingin remas keras jantungnya
Dan hiperbola tertuah saja dalam luapan rasa

Bisa, ya?
Kita ini lucu, ku pikir
Dengan mudahnya kita menjalani apa yang tak seharusnya
Aku baik kaupun demikian
Namun apa yang selama ini kau hindar dan ku khawatirkan?
Ah dasar penghalusi bodoh pembodoh pikir
Dan aku memang terbodohi adanya

Cerita tentang senja dalam hangat yang sebenarnya dingin
Cerita saat yang diceritakan telah lalu
Dan tuluslah yang ceritakan tanpa bual tanpa fiksi
Lalu aku bagimana? Ataukah selama ini?
Ya..
Bawaku dalam rasa kembali
Yang mati itu memang bereinkarnasi
"Selamat bertemu tuk kesekian kalinya"
Diri yang masih sama, ya, itu sama
Namun diri itu membawa sebuah cerah kembali dalam matanya
Aku merasakan termiliki sepasang lensa itu
Aku kembali! Aku kembali!

Semua bagian dalam pikir ini dengan sibuknya berceloteh
Yakinkan pemiliknya tuk percaya yang sudah tercipta
Desas desus desir, ah bodoh! Pikirku...
"Biarkan saja dia tak sama denganku, asalkan dia mampu menepati janjinya"
Karena janji itulah aku bisa berjanji padamu
Dan akhirnya...
Tetaplah bawaku bertahan dalam jeratan reinkarnasi itu
Aku ingin tetap seperti ini
Tak dicintai namun tak dibenci..


Aku merasa bahagia,
Kamis, 19 November 2015

Aku Masih Ada

Aku tahu aku bukanlah aku
Apa hanya saat ucap senandungkan baitnya saja?
Apa hanya saat itu saja bagian dari matamu ijinkanku milikinya?
Dan terlupakan saat jarum waktu tak memihak padaku lagi
Aku hanya mencoba tersenyum padamu yang tak melihatku lagi
Aku hanya mencoba bersuara padamu yang tak mendengarkanku lagi
Aku hanya mencoba nyata padamu yang tak bisa sentuhku lagi

Ya... Memang...
Aku salutkan aku seka linangmu di dalam angan
Dan kau masih saja tak mengerti
"Siapakah dalang di balik prosa ini?"
Di belakang di sudut suara itu
Ada rintihan jerit yang menderik
"Itu aku, aku, aku aku, aku"
Tak inginku tonjolkan adaku
Kau puja-puji dalang hikayat nyata pembawa tangis itu
Namun kau tak tahu
Bahwa yang tak terlihat itu yang kau alamatkan
Dan kau tak kan pernah tahu itu
Hanya saat itu dan tetap hanya pada saat itu
Aku bisa berkomunikasi pada jiwa yang berdimensi lain
Walau kita masih dalam satu yang sama

Bagai lawatan dalam kurung yang sama
Aku tak terengkuh olehnya
Frasaku tinggal cerita
Asaku tingga sepah
Aku tetap tak termanusiakan
Aku hanya ingin seperti mereka yang kau anggap ada
Aku ingin bak mereka yang kau tatap
Aku bukanlah ampas kenangan yang kau hempas
Dan aku belum mati
Namun mengapa kau membuatku seperti ada di dimensi lain?

Jujur..
Aku hanya ingin beri tahu
Kepercayaan pengganti jiwa itu ada padamu
Bunuh atau akan mati lagi..
Itu bergantung padamu
Ini bukanlah pergumulan rasa
Namun kepercayaan dalam rangkai frasa
Itu ada padamu
Ada padamu
Tolong hargai dan manusiakanku

Dendam pada Sebuah Janji

Di atas tanah yang sama
Yang tak lelahnya menantang diri
Diri yang terbalut kegagalan di masa lampau
Di atas rumput yang sama
Yang dengan kerasnya menertawai
Menertawai diri yang terhina lembut terolok dalam suatu kehormatan
Entah mengapa pula
Sebuah janji di dalam dendam 
Membawaku dalam dunia dan atmosfer yang sama

Aku akan memecah langit membelahnya dengan caraku
Aku akan taklukan tarian angin dengan pikiranku
Aku ingin terbang menari mendominasinya
Dan aku akan pecahkan apa yang menghalangi jalannya

Entah suatu kutukan entah suatu mantra yang tertanam
Kegagalan itu dengan ramahnya memelukku
Kegagalan yang indah memang
Datangnya tidak menyakitkan namun sejujurnya iya
Aku hanya kosong
Aku tahu bahwa kegagalan itu siap tersenyum lembut merasuki kekosongan itu
Namun mereka?
Ternodai sebuah kutukan
Terkotori sebuah janji 
Mereka yang inginkan, mereka yang perjuangkan
Mereka yang tidak siap untuk menikmati pelukannya
Mereka yang tidak pernah rasakan balutan duri di dalam kehangatan
Mereka tidak tahu
Namun aku tahu

Mata itu tak hentinya meluapkan apa yang ingin dia luapkan
Mata itu berbicara
Senyum ini menutupinya
Untuk yang pertama mungkin
Mereka akan tahu bagaimana rasanya
Memendam dendam yang tak dapat lagi dipendam
Dendam yang dengan sadis mencari pembalasan
Dendam yang terus dipuji di dalam olokan 
Dan aku kalah melawannya
Dendam dalam sebuah janji
Dan sekarang mereka memilikinya

Keluarlah dengan keras dan meluap-luap
Dendam ini masih ada
Tepat setahun yang lalu 
Aku merayakannya lagi dengan hal yang sama

Dendam itu semakin bertumbuh dan tak akan mati sebelum ku mati.


Sisi Lainmu

Berbicaralah padaku
Sebisu-bisunya dirimu,  apa hanya suara yang dapat menyampaikan makna?
Makna yang tak ingin kurasuki
Namun ku harus memahami
Tanpa kau sadari 
Mata itu terlalu mudah berbicara
Terlalu jujur untuk menyakiti suatu rasa
Terlalu tulus untuk menyayangi suatu jiwa
Pun juga terlalu sadis untuk membalikan sebuah fakta dalam fenomena
Andai kau tahu
Selama diri itu tak sudi memberikan serintih suara untuk kudengar
Selama diri itu hindarkan sebuah alunan untuk kuresapi
Aku telah berbicara pada sisi lain yang kau miliki
Asal kau tahu
Diri itu inginkan suara sampaikan berita
Tolonglah jangan kau mengelak
Jangan kau mencoba bersembunyi di balik sebuah mimik
Diksi berubah menjelma menunggang suatu getar
Getar yang tak bisa mereka lihat
Namun hanya hati yang terpatahkan saja sasarannya

Sebuah pertanyaan klasik menggurui hati yang tak ingin tahu
"Mengapa mata itu mudahnya berbalik mengubah-ubah suatu alur?"
Alur yang kuyakini selamanya abadi
Alur yang teruntuk jiwa lemah yang ditinggalkan 
Alur yang putus di tengah tapak-tapak suatu langkah
Siapa yang akan membawaku kembali?
Ini terlalu sulit
Namun hanyalah yakin di dalam ketidakyakinan
Aku tetap kan berada pada jalannya 
Berharap suatu kan membukanya
Tak hanya tertutup pada satu sisi
Ku yakini bagian lain kan membukanya 

Detik dentum waktu
Tak habis-habisnya menyiksa seiring debaran detak itu 
Aku masih hidup
Hidup untuk disiksa olehnya
Menunggu waktu berhenti merajut nada
Aku terjebak di dalamnya
Namun aku akan tetap yakin
Ada suatu yang membukakan memberhentikan siksa

Bukannya aku berharap
Sungguh harap itu tak pernah ada
Aku hanya menikmati ini
Menikmati rasa yang membawaku hidup di dalam kematian
Sungguh...
Aku menanti lukisan mata itu berhenti beri siksa
Dan membalikkan fakta dalam suatu nirwana

Aku siap menerima getar dan menafsirkannya,,,


 

Bukanlah Bagian dari Sebuah Lakon

Aku kira
Lakon itu telah menyentuh akhir
Ya.. Benar...
Namun mengapa mata itu tak habbis-habisnya merajut sebuah karya
Karya bernama kesakitan
Aku kira dustamu hanya pada sebuah lakon
Ternyata lebih dari itu
Kau dustakan janji pada sebuah pagelaran abadi
Pagelaran yang terus berlanjut
Dan aku tidak akan mati
Mengapa sejelas itu kau tunjukkan dusta
Aku sempat meyakinimu
Yakin akan suatu himpunan aksara 
Namun kau sendiri yang mendustakannya
Dan kini ku sadar
Bukan aku 
Bukan aku
Bukan aku
Dan lakon itu abadi bukanlah suatu yang diciptakan
Aku menyesal
Aku pernah meyakinimu
Tetap untukmu sepasang mata cokelat

Dustanya Pada Sehimpun Aksara

Kepada penghuni dunia fana ini
Aku mengundang salah satu bagianmu
Bagian dimana kekuatan tarikan itu ada
Dan aku terbawa jatuh bersamanya 
Aku sudah terbawa emosi
Rasa yang sebelumnya selalu ku rasa
Rasa yang selalu merajut bagian tubuh ini menjadi satu
Menjadi satu bagian bernama kesakitan
Aku tak tahu harus bagaimana
Bukankah kau yang bersyair
"Cintailah seorang sedalam-dalamnya sebelum kau berpisah dengannya.."
Mengapa aku tak bisa menjadi bagian dari aksara itu?
Bukankah pondasi itu yang menjadi bagian dari padaku?
Dan aku mempercayainya ada padamu
Tetapi mengapa?
Aku terlalu menjijikan untukmu?
Haruskah ku kembali berpura-pura dalam jiwa lain?
Aku sudah terlalu sering diperlakukan seperti ini
Aku percaya padamu 
Percaya karena himpunan aksara di dalam kata yang kau yakini
Aku jadi meyakininya pula
Aku meyakini aksara itu hidup di dalam dirimu
Tetapi mengapa kau berdusta?
Dusta di dalam mata yang selama ini kutafsirkan
Dan aku dapat menafsirkan hal yang sejalan
Sekarang aku memanglah aku
Aku yang berbeda dari yang kau kenal
Kau terlalu cepat menjauh
Aku terlalu cepat meyakini
Kusadar kau jijik
Aku memanglah yang menjijikan
Mata yang sama dari mata jiwa yang ditinggalkan
Aku tak mau melihatnya lagi
Mata yang dipenuhi sinar penuh harapan
Kini terselimuti kelamnya atmosfer pemati rasa
Apakah kau tahu?
Aku telah mengagumi apa yang seharusnya tak kukagumi
Koloni seberang merendahkanku dengan apa yang kukagumi
Namun aku bangga
Aku bisa mengagumimu dengan apa yang ada di dalam raga
Ku sama sekali tak memperhitungan raga yang terlihat
Karena aku telah mengagumi apa yang tak terlihat
Serendah-rendahnya mereka merendahkanmu
Aku tetap kagum
Hanya saja kau tidak tahu itu
Aku yang disakiti oleh mereka
Lalu disakiti pula oleh yang dikagumi
Apakah kau tahu??? Apakah kau tahu????
Aku menempis semua kata mereka
Dan aku lanjutkan semua di dalam rasa yang asing
Namun kau pun juga tidak ingin 
Lalu haruskah ku kagum seperti ini?
Maafkan aku dan segala kekuranganku
Inilah aku, tolong manusiakanku.
Aku pun manusia.

Kerapuhan yang Tak Rapuh

Saat kau dibawa sebuah ingatan masuki sebuah masa
Masa yang hampir terlupa
Masa yang memang seharusnya tak pernah ada
Betapa menjijikannya diriku 
Betapa mulianya apa yang mengelilingiku

Mengapa ada orang setulus itu, tulusnya melemahkan keras hati
Andaikan aku memasuki raga lain
Andaikan ragaku tak pantas tuk tidak dimanusiakan
Andaikan dialah aku
Perempuan normal yang dihormati dihargai dilindungi
Aku kira hanya dia
Tetapi, tidak
Yang disana pula mendapat suatu penghormatan
Dimana aku berada? Bagaimanakah aku terlihat?
Cukup tahu diri ini sadarkan mimpi

Jika puisi sang penyair ceritakan ambisi
Ambisi tuk melindungi sebuah kerapuhan
Manakah sudut yang aku miliki?
Semua tak berlaku pada diriku
Sekeras-kerasnya aku berjuang
Setegar-tegarnya aku memaksakan
Tidak ada sayaap kuat dari jenis lain yang kan sudi memeliharaku
Aku seperti ingin keluar dari raga
Menjelajah waktu dimana kan ku temukan
Sebuah raga yang sudi dia pelihara
Bukan kerapuhan yang harus menjaga kekuatan 
Namun kekuatan itu tak sudi menjaga kerapuhan
Kerapuhan dimana akulah pemiliknya

Terlalu jauh aku berharap
Tapi mengapa kau sempat menjadi sang kekuatan?
Tenang..
Aku berusaha mematikan semua harap yang tak ingin aku tumbuhkan
Kekuatan itu jangan kau beri untukku
Aku memang rapuh
Namun asal kau tahu, 
Sang kerapuhan itu sudah sering diinjak-injak kejam oleh kekuatan
Kekuatan yang kata orang sang pelindung
Dan sekarang ku kembali bertanya,
Siapakah pelindung itu?

Tuk yang terakhir
Ijinkan aku merasakan bagaimana terlindungi
Bagaimana dihormati
Bagaimana dimanusiakan
Bagaimana tidak mendapat tatapan jijik
Layaknya dewi-dewi angkasa sana

Jangan anggap aku kerapuhan yang terinjak, aku juga bagian daripadanya.

Goresan Itu...

Terima kasih..
Kau telah menambah paragraf indah dalam kitab kehidupanku
Terima kasih kau telah memanusiakanku
Dengan begitu saja aku merasa utuh
Entah berapa lama jiwa-jiwa itu tidak memanusiakanku
Namun aku berterima kasih padamu
Padamu yang datangnya tak ku indahkan
Padamu yang hadirnya tak ingin ku beri sekedip lirik

Saat kau sematkan tanda itu membalut seujung tubuh ini
Saat itu pula mata ini tak ingin bertemu
Walau hanya ingin tuk sampaikan terima kasih
Goresan indah dalam goresan yang tak semuanya sudi memberinya
Aku pun ragu apakah kau benar-benar
Atau sebenarnya kau sama seperti mereka
Namun semua meyakinkan jiwa lemah ini
Goresan itu nyata
Goresan itu indah
Goresan itu untukku 
Bahkan tak semuanya dapat menikmati detik tergores manis itu

Aku tak ingin dapatkan hirauanmu
Aku tak harus menjadi bagian dari sisi yang ingin kutempati
Aku tak berhak mendapat apa yang ada di dalam harap
Aku cukup menjadi sebuah kitab kusang
Dan aku hanya ingin kau menuliskan keindahan
Keindahan yang memaafkan rasa yang tak seharusnya ada

Aku tegaskan hai tuan goresan itu
Tak harus kau sampaikan kata-kata penakluk rasa
Aku tak berhak menerimanya
Dan kau tak akan sudi memberinya
Karena paragraf baru itu aku hidup
Dan aku mati karenanya
Namun aku masih akan meneruskannya

Masih untukmu, sepasang mata coklat..

Lakon yang Terulang

Melihat sosokmu begitu sempurna
Dengan melihat mata itu
Damai meluas seisi hati ini
Rasa yang sempat mati itu
Hidup mengisi sudut-sudut sepi ini
Sosok itu nyata, aku tahu
Hal yang tak sama pun terjadi pada waktu yang sama
Mengapa nyatanya tak abadi?
Terlalu cepat maya saat ku coba dekatinya

Ku coba pahami sesuatu
Apakah mayamu datang dibalik sebuah tirai pementasan?
Apakah nyatamu terdustakan janji pada sebuah skenario?
Apakah kejujuranmu terpalsukan mimik peran sebuah drama?
Atau mungkin semua itu sebenarnya tak pernah ada
Atau inginkanku menjadi sebuah pengisi lakon saja?

Sadarkah kau?
Sedari dongeng lawas itu tergelar
Semenjak nada alunan lawas itu bergema
Kau telah menarikku
Menarik dengan kejamnya tuk jatuh dalam sebuah rasa
Rasa yang tak ingin ku coba masuki
Ku tidak ingin menjadi pemerannya

Aku kira kamu akan benar menjadi kamu
Namun mengapa kamu bukanlah kamu
Mainkanlah aku sebagai peran jika kau butuh
Namun rasa ini kan tetap ada setelah drama menyentuh akhir
Tidak ada skenario yang tak berakhir
Begitu pula rasa yang pasti tak berakhir
Akhirnya kan kau temui dalam sebuah mata keji
Dan kau tahu?
Aku kan memberitahumu sebuah janji
Ku tak akan memberi mata keji itu padamu
Seiring memberikan ijin rasa ini tuk jatuh
Aku hanya ingin jatuh padamu
Padamu yang tak pernah melihat sisi lain di balik peran
Walau ku selalu ada tuk mencari yang tak terdramakan
Karena aku mempercayaimu
Kau mestinya tahu itu

Rasa yang masih ada dalam banyaknya lakon yang kau bintangi, aku masih sama.